Mengoptimalkan Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak

by - November 24, 2018


Mengoptimalkan Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak

(Resume Kulwap IP Babel)



Hari/Tanggal : Rabu, 31 Oktober 2018
Pukul : 20.00 WIB - Selesai
Narasumber : Cut Zaida Murrina





Profil Narasumber
Nama lengkap : Cut Zaida Murrinna, MT
Temtala : Banda Aceh, 12 maret 1975
Pendidikan :
S1 Fakultas Teknik Univ. Syiah Kuala
S2 Fakultas Teknik lingkungan ITB
Suami : DR. Iskandar Mirza, M.Ag
Anak :
•Muhammad Waashil Ar rohiim
•Ahmad Naufal Al Mursaliin
•Muhammad Fajri Al Musthafa
•Syifa Zahratun Nisaa’
Pernah bekerja sebagai PNS (Dosen), Direktur marketing CV. Adz Dzikr, manajer nasyid muslimah “Dawai Hati”
Aktivitas sekarang : Ngurusin butik dan catering, ketua yayasan Diniyah Putri dan pesantren tahfidz PPIQ bandung, mengajar mata kuliah entrepreuneur, matematika, IPA, sejarah Islam dan reading time di PPIQ. Mengisi training tentang PSikologi Al Qur’an.

Materi Kulwap

Mengoptimalkan Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak




Menjadi orang tua adalah amanah yang luar biasa. Tapi banyak orang tua yang kurang menyadari pentingnya peran mereka dalam mendidik anak anaknya. Dan tidak sedikit bahkan yang menyerahkan kewajiban mendidik anak kepada pihak sekolah dengan alasan “Kan saya sudah bayar mahal untuk menyekolahkan mereka disini”.

Seharusnya kita belajar menjadi orang tua sebelum kita benar benar menjadi orang tua. Lho kok? Iya..karena mempersiapkan diri harus dilakukan sebelum peran kita jalankan. Bukan setelah punya anak baru belajar jadi ibu… karena menikah juga bukan sekedar mempersiapkan diri untuk menjadi istri tapi harus siap menjadi ibu pendidik generasi.
Setiap anak yang lahir adalah fitrah. Dan fitrah manusia adalah tunduk dan patuh pada Allah. Setiap orang tua pasti menginginkan anak yang sholeh sholehah.  Anak adalah investasi dunia akhirat, karena bukankah jika kita sudah meninggal maka doa anak yang sholeh adalah yang kita idam idamkan.
Al Qur’an sudah menuntun kita dalam segala hal termasuk soal pendidikan anak.



Jika ditanya siapakah yang paling berkewajiban mendidik anak ya sudah pasti jawabannya adalah “kita” sebagai orang tuanya. Tapi bagaimana mungkin bisa mendidik anak jika kita sendiri belum terdidik? Lalu bagaimana jika sudah punya anak tapi ilmu dan iman masih “ala kadarnya?” Tiada kata terlambat.. hayuk tetap semangat.

Dalam QS An-Nahl ayat 78 Allah menjelaskan  sesungguhnya manusia lahir dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun. Lalu Allah memberi kita pendengaran, penglihatan dan hati agar kita bersyukur. Maka jika ingin memiliki anak yang sholeh sholehah optimalkan ketiga fungsi diatas.
•Optimalkan pendengaran
Indera pendengaran sudah berfungsi sejak anak dalam kandungan. Maka perdengarkanlah selalu kata kata yang santun dan baik, perbanyak memperdengarkan kalamullah sejak dalam kandungan, baik dibacakan oleh ibu ataupun ayahnya. Jadikan murottal Al-Qur’an sebagai nutrisi jiwa anak. Hindari berbicara kasar. Kuatkan aqidah anak dengan menceritakan tentang kebesaran Allah. Buat anak bangga sebagai muslim, sampaikan dan ceritakan keindahan akhlak Rasulullah dan para sahabat. Ceritakan juga kisah keberanian panglima Islam dan kecerdasan para ilmuwan muslim. Optimalkan fungsi pendengaran mereka dengan kalimat yang dicintai Allah dan RasulNYA
•Optimalkan penglihatan
Sebelum menyuruh anak menundukkan pandangannya, maka tundukkan dulu pandangan kita. Biasakan sejak kecil anak memandang indahnya alam ciptaan Allah. Biasakan anak melihat kita sholat..melihat kita bersedekah..melihat kita membaca kalamullah. Sehingga dari kecil mereka biasa melihat aktivitas yang baik baik. Tahan memberikan gadget pada anak. Karena jika tidak hati hati HP itu akan menjadi “Setan gepeng” yang melenakan. Temani anak bermain dan belajar. Jangan biarkan TV menjadi sahabat mereka. Lakukan Tarbiyah bil Hal yaitu pendidikan dengan keteladanan. Seperti Nasehat Imam Syafi’I “Perbaikilah dirimu sebelum memperbaiki mereka, karena mata mereka terikat padamu, apa yang kamu lakukan dianggap baik dan apa yang kamu tinggalkan mereka anggap tidak baik.”
•Optimalkan hati
Penuhi anak dengan cinta dan kasih sayang yang tulus..dengan do’a yang ikhlas. Jangan sibuk memberikan makanan pada fisiknya tapi lupa menyentuh hatinya, lupa memberikan nutrisi pada jiwanya.
Dalam Islam menurut pendapat Ali bin Abi thalib ra.

Kita mengenal tiga tahapan dalam mendidik anak :
1.Usia 0-7 tahun.
Pada usia ini anak adalah pangeran dan putri cilik. Mereka dihujani dengan sikap lemah lembut dan kasih sayang. Tidak menghardik mereka. Bermain bersama mereka. Menjadikan usia ini penuh warna dan menjadi kenangan indah untuk mereka. Bagaimana saat kecil rasulullah begitu disayang oleh kakek beliau Abdul Muthallib. Kasih sayang yang kita berikan pada usia ini membuat anak tumbuh penuh percaya diri. Pada usia ini penanaman tauhid adalah yang utama. Bisa dilakukan lewat cerita dan bermain.  Bukan malah membiarkan mereka sibuk dengan setan gepengnya alias gadget supaya kita tidak direpotkan dengan kerewelannya. Kalau saya ditanya mending repot saat anak anak kecil, ya rumah berantakan, mainan di mana mana, bermain dan bercerita, daripada direpotkan anak saat sudah besar. Hayoo mau pilih repot saat mereka kecil dengan repot yang positif atau mau repot pakai ‘pusing pala emak’ saat mereka sudah besar.. bersabarlah..usia ini tidak lama .. nantinya banyak kenangan indah yang kita ingat.
Dalam metamorphosis kupu kupu usia ini dianggap seperti ulat, ulatkan hanya bermain, makan, tidur, makan lagi.. bermain lagi..  
2.Usia 7-14 tahun
Pada usia ini anak ibarat tawanan perang. Anak mulai diperkenalkan aturan dan disiplin yang ketat. Sudah harus disuruh sholat.  Bahkan usia 10 tahun boleh dipukul jika tidak mau sholat (tapi memukul yang sesuai sunnah nabi yaa). Orang tua justru sering kecolongan pada usia ini, karena masih menganggap “ah biar ajalah..masih anak anak”padahal jika pada usia ini anak tidak diikat dengan aturan dan disiplin maka kita akan kesulitan menghadapi mereka ke depannya.  Pada usia ini anak ibarat pada fase kepompong.. dimana mereka harus bersabar, menahan diri, menahan tidak makan, terkukung dalam kepompong. Terkadang orang tua ada yang kasihan melihat anaknya hidup dengan banyak disiplin, melihat anaknya terkukung dalam kepompong, maka disentuh dan dirobeklah sedikit kepompong itu, agar ada ruang terbuka untuk anaknya.. tapi apa yang terjadi.. dari kepompong itu tidak akan pernah muncul kupu kupu yang sempurna.. bahkan menjadi kupu kupu cacat yang tidak bisa terbang.
3.Usia 14-21 tahun
Pada usia ini anak diibaratkan duta besar, atau perdana menteri. Mereka telah menjadi teman kita diskusi. Mereka sudah bisa menerima delegasi tugas kita. Sudah bisa mengambil keputusan yang tepat. Mereka memasuki aqil baligh yang sesungguhnya.. dewasa secara fisik (baligh) yang ditemani dengan aqil yang berkembang sempurna.
Akhirnya kepompong itu berubah menjadi kupu kupu yang cantik, berwarna warni terbang kesana kemari. Buah kesabarannya menahan diri saat menjadi kepompong.

Quote yang terkenal dari Ali bin Abi thalib ra. Adalah :

“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya karena mereka hidup bukan dizamanmu”

You May Also Like

0 comments