Anakku Picky Eater?

by - December 21, 2018

Seorang ibu tampak sedih ketika mengeluhkan bahwa anak balita-nya susah makan.

Menurut cerita, si kecil ternyata lebih memilih minum susu ketimbang makan nasi. Alhasil, berat badannya susah naik.

Wah wah..

Apakah bunda familiar dengan kisah serupa? 😊

***

Picky eater dalam bahasa indonesia memiliki arti pilih-pilih makanan.

Secara medis, picky eater sebenarnya merupakan istilah yang merujuk pada anak yang "mau" makan. Namun, jumlah yang dikonsumsi kurang dari porsi yang seharusnya.





Bunda tentu sudah mengenal ada 4 kelompok besar jenis makanan, bukan?

✓Karbohidrat
✓Protein
✓Sayur/buah
✓Susu

Anak picky eater sebetulnya masih mau mengonsumsi secara lengkap keempat kelompok tersebut. Yakni, MINIMAL 1 jenis dari tiap kelompok.

Sebagai contoh, ia hanya mau makan kentang saja (karbohidrat), telor saja (protein), mangga manis saja (buah), es krim saja (susu).

Dan ternyata, picky eater merupakan tahapan normal dalam perkembangan seorang anak, bunda 😊

***

Kita pasti bertanya-tanya, lalu yang disebut tidak normal yang seperti apa dong?

Dikatakan tidak normal, jika anak sama sekali tidak mau mengonsumsi SEMUA makanan dari kategori tertentu.

Misal : sama sekali tidak mau makan makanan dari kategori protein. Inilah yang kemudian kita sebut dengan anak "selective eater".

***

Sehingga, jika anak hanya mau mengonsumsi mi dan susu, bisa kita simpulkan bahwa ada yang keliru dalam pola makannya, ya. Tidak makan sayur, tidak makan protein.

Meskipun terkadang, ada beberapa orangtua dari anak tersebut yang berpendapat,
"Tapi anak saya berat badannya di kurva KMS bagus kok, nggak kurus".

Memang benar, bahwa jumlah makanan yang cukup, akan menghasilkan status gizi (berat badan) yang baik. Namun, tidak selalu berarti bahwa kualitas makanan yang dikonsumsi sudah sepenuhnya baik 😊

***

Berdasarkan penelitian, ternyata 10% dari jumlah anak dengan status gizi baik mengalami anemia defisiensi besi (ADB).

ADB adalah suatu sindrom yang diakibatkan kekurangan asupan zat besi. Padahal, zat besi bisa dengan mudah kita peroleh dengan makan daging merah, sayuran hijau atau paha ayam.

Dengan kata lain, anak dengan berat badan cukup, tetap harus memperhatikan kecukupan zat mikronutrien (zat besi, vitamin, dan lain-lain).

***

Sebelum kita melangkah ke bagaimana cara menangani anak tipe "selective eater", kita sebagai orangtua harus tetap tenang dan tidak terburu-buru melabeli anak sebagai "si susah makan", ya.

Apalagi, di saat tetangga, teman atau bahkan oknum tenaga kesehatan seolah menyudutkan bunda sebagai orangtua yang tidak cakap mengurus anak 😊

Jangan sampai, kekesalan kita akibat tuntutan lingkungan, menjadikan kita memaksa anak untuk makan dengan cara "kekerasan". Bukannya berhasil, anak justru akan trauma dan makin rapat mengunci mulutnya.

***

Setelah bunda berdamai dengan keadaan, yang pertama kali harus dievaluasi kembali adalah,

Apakah selama ini bunda sudah menerapkan "feeding rules/aturan makan" yang benar?


***

Mengapa aturan makan ini penting?

Sebab tidak semua anak terlahir sebagai anak yang hobi makan, makan dalam porsi banyak, cepat gemuk dan hal mudah lain yang diidamkan orangtua pada umumnya.

Anak yang pilih-pilih makanan, membutuhkan aturan dan kesabaran ekstra.

Aturan makan bukanlah hal yang harus ditakuti ya, bun. Justru, ini akan membantu kita menakar pencapaian makan anak dengan lebih jelas. Misal, hari ini sudah makan berapa kali, apakah besok meningkat atau menurun.

***

Aturan makan itu apa saja?

Aturan makan, meliputi :

1. Tepat jadwal

✓ Jadwal makan dibagi menjadi 2, makanan utama dan selingan/cemilan. Jadwal ini harus dipatuhi secara teratur.

✓ Makanan utama (3 kali) dibagi menjadi pagi, siang, malam (misal jam 7pagi, 12siang, 5sore).

✓ Cemilan (2 kali) di antara jadwal makanan utama (contoh : jam 9 pagi, jam 2 siang).

✓ Waktu makan maksimal 30 menit, habis tidak habis harus diakhiri.

✓ Susu boleh diberikan maksimal 500ml per hari.

2. Tepat lingkungan

✓ Suasana makan dibuat menyenangkan, tidak boleh ada paksaan.

✓ Tidak ada distraksi (pengalih fokus) saat jam makan berlangsung, seperti mainan, televisi, musik. Sehingga, diharapkan sesi makan bisa selesai dalam 30 menit.

✓Tidak menggunakan makanan lain sebagai hadiah (misal : kalau mau makan, akan dibelikan coklat).

3. Tepat prosedur

✓Dorong anak untuk mencoba makan sendiri, jangan lupa memberikan pujian jika si kecil mau mencoba.

✓Apabila ia menunjukkan tanda tidak mau makan (mengatupkan mulut, memalingkan kepala, menangis), ambil jeda terlebih dulu.
Lalu, tawarkan kembali makanan secara netral (tanpa paksaan), seperti : "adek masih mau makan?"

Jika 10-15 menit ia tetap tidak mau, maka sesi makan diakhiri.

***

Mudah, kan ya? 😊

Yang sulit tentu adalah konsistensi/keajegan. Ingat bunda, bahwa hasil dari metode ini sangat penting untuk melatih si kecil mengenal "rasa lapar".

Sekaligus, sebagai langkah awal deteksi, apakah betul gangguan berat badan pada anak kita memang disebabkan karena dia tipe "selective eater" atau sebenarnya hanya perlu "aturan makan yang benar" 😊

***

Jadi, seumpama nih, di saat jam makan utama si kecil merengek terus meminta susu, manakah yang akan bunda pilih,

memberikannya atau tidak? 😊

***

Topik selective eater insyaalloh akan kita bahas di artikel minggu depan, ya..

Selamat mencoba menerapkan feeding rules-nya ya, Bun, semoga berhasil !




Ditulis oleh : Elok Widya Kirana, dr.
Sumber :
Seminar Pediatric Clinical Update 2018, Nur Aisiyah Widjaja, dr., Sp.A (K)




You May Also Like

0 comments