Selective Eater, Berkah atau Musibah?

by - December 28, 2018

Apa kabar bunda dan si kecil? 😊

Semoga selalu sehat dan berbahagia, ya.

***

Artikel kali ini akan melanjutkan topik minggu lalu, yakni bagaimana berkompromi dengan anak “selective eater”.

Adakah yang masih ingat definisi selective eater? ☺️

***

Apa pentingnya kita sebagai orangtua memberikan perhatian pada anak selective eater (SE)?

Ya, pada kondisi lanjut, anak SE dapat mengalami kehilangan zat gizi makro dan mikro. Zat gizi makro meliputi karbohidrat, protein, lemak. Zat gizi mikro terdiri dari vitamin, zat besi dan mineral lain.

Hal tersebut tentu berefek pada pertumbuhan fisiknya. Tidak hanya status gizi, namun juga berdampak pada turunnya imunitas tubuh, sehingga mereka akan rentan terhadap infeksi penyakit. Pada kasus yang berat, dapat mengakibatkan kematian.

***

Lantas bagaimana sih sebenarnya cara mengatasi anak SE?

✓ Sajikan makanan dalam porsi kecil.

Jangan berpedoman “makan banyak supaya kenyang”.

Anak SE adalah anak spesial ya, bunda 🤗 Porsi kecil dan teratur, itu kuncinya.


✓ Pilihan makanan dibuat bervariasi, jangan menawarkan makanan yang dimakan/disukai orang tua saja.

Pernah dengar kisah bayi bule ?

Ternyata si bule ini benar-benar tidak suka nasi lho, mau-nya makan olahan pasta (mi, makaroni) atau roti. Sebenarnya tidak ada yang keliru dengan selera-nya, bukan?

Terkadang kita sebagai orang dewasa memaksa anak harus jadi penurut, padahal ia adalah individu bebas yang berhak punya selera sendiri.

✓ Paparkan anak dengan jenis makanan baru sebanyak 10-15 kali pada anak usia 2 tahun. Sedangkan, untuk anak yang lebih besar (4-5 tahun) pengenalan awal dilakukan sebanyak 8-15 kali.

Untuk pertama kali, makanan bisa disajikan di piring orang tua karena biasanya mereka lebih tertarik dengan apa yang dimakan orang tua.

✓ Taruh makanan baru dalam wadah yang menarik (berwarna atau bersekat, misal nampan es batu di freezer) dan taruh wadah tersebut di lokasi yang bisa dilihat dan dijangkau tangan si kecil.

Ingat, jangan menawarkan atau memerintahnya untuk makan. Cukup letakkan, dan biarkan dia mengambil sendiri. Balita akan lebih suka memegang kendali pada saat mencoba makanan baru.

✓ Ajaklah teman seusia anak atau anggota keluarga lain (suami, tante, kakak) untuk makan bersama dengan menu baru.

Kita tidak perlu mengajak si kecil untuk ikut makan. Cukup tampilkan ekspresi makan yang menyenangkan, ya ! Anggap saja kita sedang menjadi bintang iklan di TV 😃😃

Semakin banyak orang yang terlihat menikmati makan dengan menu tersebut, maka secara psikologis si kecil akan tertarik untuk mencoba.

✓ Jika setelah mencicipi makanan, si kecil ingin muntah atau bahkan muntah, hentikan makanan tersebut dan coret dari daftar. Di lain waktu, sajikan menu yang mendekati makanan favorit anak.

Food chaining, mencampur makanan favorit dan makanan baru yang hendak dikenalkan.

Caranya adalah dengan sedikit demi sedikit mengubah perbandingan porsi makanan favorit dan makanan baru dalam satu menu. Contoh, pada saat MPASI mencampurkan ASI di dalam puree (bubur) atau mengganti menu kentang goreng dengan pai ayam karena memiliki kemiripan rasa gurih dan tekstur.

Food chaining ini mengandung pengertian persamaan rasa, suhu, penampilan dan tekstur. Sehingga, kita bisa bermain di 4 komponen itu, ya Bunda. Kita dandani supaya mirip atau diolah teksturnya agar serupa. Pada umumnya teknik ini akan berhasil jika dilakukan secara kontinyu selama 3 bulan.

✓ Terakhir dan yang terpenting, orang tua harus tetap tenang dan bersikap netral, jauhkan diri dari emosi negatif.

***

Saya mengerti bahwa perjuangan bunda untuk membuat anak mau makan adalah perjuangan yang panjang dan cukup melelahkan 💕

Tidak semua ibu suka berkreasi di dapur, atau merasa sangat repot dengan pilihan menu si kecil. “Apa iya saya harus merogoh kocek lebih untuk makan si kecil? Saya kan maunya dia makan menu keluarga”.

***

Sebetulnya, dengan melatih anak mengenal “rasa lapar” (bisa dibaca di artikel sebelumnya), anak akan beradaptasi untuk mau makan apapun yang disediakan untuknya, kok 😊

Namun memang pada kasus tertentu di mana si kecil sangat pemilih, diperlukan komitmen orang tua untuk mau menggali makanan apa saja yang dia suka.

Jangan lupa bahwa di poin nomer 3 juga telah disebutkan, cobalah tawarkan dulu 10 kali, jangan 3 kali lalu menyerah, ya 😊

***

Anak selective eater, menurut saya, justru akan melatih ibunya untuk terus belajar dan bersabar. Tidak semua ibu punya keahlian mengasuh si pintar ini.

Berbahagialah, karena bunda akan lebih mahir dalam hal ini nantinya. Tentu akan sangat membahagiakan bagi cucu bunda di kemudian hari, mengetahui neneknya ternyata cakap dan memahami cara menangani selera makan-nya yang "unik" 😊

***

Di artikel minggu depan, kita akan belajar bersama mengenai satu bab terakhir, yakni SMALL EATER.

Apa dan bagaimana mengatasinya?

Sampai jumpa minggu depan ya, Bun ❤️

(Silahkan tinggalkan komentar untuk bunda yang menginginkan topik lain yang ingin dibahas di artikel berikutnya).



Ditulis oleh : Elok Widya Kirana, dr.
Sumber :
Seminar Pediatric Clinical Update 2018, Nur Aisiyah Widjaja, dr., Sp.A (K)

You May Also Like

0 comments