Adab, Iman, Anak, dan Orang Tua: sebuah kontemplasi menumbuhkan adab dari dalam rumah

by - September 13, 2019

Source : Pinterest
Oleh Ismi Istiqomah Ruhyati


Pembahasan Adab adalah paling menarik karena istilah tersebut mencakup bagaimana manusia berperilaku maupun berinteraksi.

Dalam bahasan Matrikulasi, Adab Menuntut Ilmu adalah pembuka materinya. Secara mendalam lebih dari menerangkan tentang tata cara bersikap, bahasan mengenalkan Adab kepada anak jadi sorotan menarik beberapa waktu lalu.

Lalu bagaimana permulaan mengenalkan Adab?

Dari definisi yang telah dijabarkan, bahwa Adab, Akhlaq, Etika, adalah perilaku yang didapatkan dari luar. Di Ibu Profesional, dikenal bahwa adab itu ditularkan, dan Ibu adalah arsitek peradaban. Jika dirunutkan, keseharian kita bersama anak adalah peluang mengajarkan adab. Anak selalu bersama kita, anak meneladani kita, anak mencontoh adab dari kita.

Jauh sebelum meminta anak kita mempunyai adab yang baik, dalam buku Prophetic Parenting disebutkan

agar seorang anak memperoleh makna adab secara sempurna, yaitu dari perilaku adab kedua orangtua kepadanya

Maka, setiap perilaku yang kita tunjukkan di depan anak-anak kita sejatinya adalah upaya menanamkan adab yang baik.

Perhatikan adab kita dalam memperlakukan anak, karena sejatinya mereka belajar adab memperlakukan orang tuanya dari diri kita saat membersamainya kini

Children see, children do

*

Menurut Ust.Harry Santosa, hanya fitrah anak yang tumbuh paripurna yang akan mudah di-adab-kan hingga perannya menjadi mulia. Maka dalam penanaman adab kepada anak, diperlukan pemahaman yang baik dalam diri orang tua, mengenai fase-fase perkembangan fitrah yang dimiliki anak.

Booster kita agar setia memiliki adab yang baik kepada anak-anak kita di rumah

Dalam ceramahnya Aa Gym, berjudul 4 tujuan hidup, dipaparkan bahwa ciri Allah menghendaki suatu kebaikan pada kita, adalah diberikan kemudahan dalam memahami kebenaran, adapun puncak amal/akhlaq seseorang itu bergantung pada tingkat keyakinan kepada Allah

Sebagai contoh, amalan ikhlas adalah karena yakin segala perbuatan Allah yang menilai, Allah yang memberikan pahalanya. Mengharapkan pujian manusia atas amalan, akan menghilangkan pahala.

Poin utama yang disorot dalam hal  sikap kita sebagai orang dewasa agar terus berakhlaq mulia, adalah karena yakin kepada Allah, rodja' (berharap), khauf (takut) kepada Allah. Karena ditemukan banyak orang yang tidak bisa menjaga kemuliaan dirinya (tidak menjaga izzah/harga dirinya) karena melakukan akhlaq yang buruk, adalah ketiadaan rasa harap dan takut hanya pada Allah (perihal iman kepada Allah).

Aa Gym juga menjelaskan bahwa musibah terberat bukanlah harta, jabatan, dsb. Namun musibah terberat adalah musibah keimanan.

Saat manusia tidak berharap dan takut pada Alllah, melainkan kepada makhluk, maka terjadilah perilaku akhlaq (buruk) yang mencoreng harga dirinya sendiri.

**

Dalam buku prophetic parenting disebutkan bahwa anak membutuhkan pembemtukan akhlak ini agar hubungan sosial kemasyarakatannya menjadi tepat dan terarah. Hal ini harus dilakukan dengan kerja keras, mengingat perpindahan dari tabiat eksternal (akhlaq) ke tabiat naluri (internal/pembawaan dalam diri/fitrah) cukup sulit. Guna meluruskan perilakunya, waktu yang diperlukan bisa sampai seumur hidup. Selain itu, kerja keras dari kedua orangtua dan para guru menjadi wajib pada tingkatan kanak-kanak yang memiliki berbagai kelebihan berupa fitrah, kemurnian, cepat tanggap, dan penurut (penumbuhan adab harus memperhatikan perkembangan fitrah anak).

Dari adab yang baik diperoleh pikiran yang terbuka. Dari pikiran yang terbuka dihasilkan kebiasaan yang baik dan tabiat yang terpuji. Dari tabiat yang terpuji diperoleh amal saleh. Dari amal saleh diperoleh keridhaan Allah. Dari keridhaan Allah diperoleh kerajaan abadi. Sebaliknya, dari adab yang buruk diperoleh pikiran yang rusak. Dari pikiran yang rusak diperoleh kebiasaan yang buruk. Dari kebiasaan yang buruk diperoleh tabiat yang tercela. Dari tabiat tercela diperoleh amal buruk. Dari amal burul diperoleh murka dan marah Allah. Dari murka dan marah Allah diperoleh kehinaan abadi (Nasihatul Muluk, karya al-Mawardi, dalam Prophetic Parenting, hal.401).

Semoga dengan semakin yakinnya kita kepada Allah menjadikan kita semakin baik dalam memperlakukan anak kita dengan adab dan akhlaq terbaik.

Aamiin yaRabbal 'alamiin


Yaa muqollibal quluub tsabbits qolbii 'alaa diniik

Wahai Yang Membolak-balikan hati, teguhkan hatiku di atas agamaMu




Daftar Pustaka

Suwaid, Muhammad Nur Abdul Hafizh, Farid Abdul Aziz Qurusy (penerjemah). 2010. Prophetic Parenting ; Cara Nabi Saw Mendidik Anak. Yogyakarta : Pro-U Media

Santosa, H. Fitrah Based Education ver 3.0. 2017. Bekasi : Yayasan Cahaya Mutiara Timur

Gymnastiar, A. 2019. 4 Tujuan Hidup. Jakarta : Saling Sapa TV. https://youtu.be/ywHu0rbPlN4. Diakses 10 September 2019.

You May Also Like

0 comments