Optimal Membersamai Anak Tanpa Stres

by - September 06, 2019

Oleh Julia Sarah Rangkuti 

Menjadi seorang ibu adalah impian banyak perempuan. Begitu bayi mungil dalam kandungan kita terlahir ke dunia, seorang ibu senantiasa menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Seiring pertumbuhannya, ibu akan berusaha memberikan nutrisi terbaik untuk buah hatinya, baik nutrisi untuk tubuhnya maupun untuk otak dan jiwanya. Jika seorang ibu membuatkan MPASI maupun makanan bergizi untuk nutrisi tubuh anak, maka apa yang sebaiknya ibu lakukan untuk memberikan nutrisi otak dan jiwa anak? 

Ibu adalah  madrasah  pertama dan utama untuk buah hatinya. Kalimat ini mungkin sudah sering kita dengar. Menjadi ‘sekolah’ pertama anak, tempat anak bertanya dan belajar banyak hal dari kita. 

Ada banyak hal yang dapat Bunda lakukan bersama si kecil di rumah, seperti: membacakan buku, memasak bersama, berkisah, berkebun, dan sebagainya. Namun, pada materi kali ini, kita hanya akan fokus mengenai kegiatan bermain yang dapat dilakukan bersama anak di rumah, yaaa..

Pada tahun-tahun pertama kehidupannya, seorang anak tak lepas dari kegiatan bermain. Akan tetapi, banyak ibu yang ‘mati gaya’ dalam membersamai anak di rumah. Main apa lagi hari ini, yaaa? Padahal, dengan bermain, sebenarnya secara tidak langsung anak memperoleh banyak pelajaran.

Bermain adalah suatu aktivitas spontan yang menyenangkan dan dipilih sendiri (muncul dari motivasi intrinsik) oleh anak untuk dirinya sendiri sehingga sebaiknya anak terlibat penuh serta memegang kendali atas pilihannya. Saat bermain, anak bebas memilih apa yang ingin ia lakukan. Kegiatan bermain pada anak biasanya bersifat fleksibel, sehingga anak dengan mudahnya kegiatan beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Hal ini disebabkan kegiatan bermain lebih menekankan pada proses, bukan hasil akhir (tujuan). 

Kegiatan bermain ini memiliki banyak manfaat untuk anak kita, Bunda. Apa sajakah manfaat tersebut? 

*Manfaat Bermain* 
• Menstimulasi panca indra anak 
Dengan bermain, anak mendapat kesempatan untuk melakukan kegiatan yang dapat menstimulasi seluruh indranya. Anak dapat melihat, meraba, mendengar, mencium, merasakan, berlari, melompat, dan kegiatan lainnya yang membutuhkan penggunaan panca indra tertentu. 

• Menstimulasi motorik kasar dan halus 
Saat dilahirkan, seorang bayi belum bisa menggunakan anggota tubuhnya secara maksimal. Seiring berjalannya usia, bayi berumur 3 bulan sudah mulai dapat meraih mainan atau benda yang ada di sekitarnya. Pada anak yang lebih besar, bermain dengan peralatan seperti sendok, spons, corong, penjepit, botol, dan sebagainya, anak dapat memanipulasi alat-alat tersebut untuk mengambil benda dengan capitan, menuang, meremas, dan lain-lain. Dengan itu, Ia perlahan-lahan belajar mengkoordinasikan gerakan tangan dan matanya. Bermain juga dapat mengembangkan keterampilan motorik kasar melalui gerakan berlari, melompat, melempar, mengangkat, dan lain sebagainya. Anak akan menjadi lebih terampil menggunakan tubuhnya dengan gerakan yang lebih terkoordinasi. 

• Menstimulasi kecerdasan bahasa 
Kegiatan bermain mendukung perkembangan bahasa si kecil dengan mengenal bendanya secara langsung. Misalnya, anak mengenal kata, tinggi, licin, meluncur saat bermain perosotan. Hal ini akan lebih mudah diserap dan diingat sikecil dari pada hanya memberitahukannya secara lisan saja. Dalam bermain, anak juga belajar berkomunikasi dengan teman mainnya. Bermain memberikan kesempatan yang baik bagi anak-anak untuk melatih keterampilan berkomunikasi dengan orang lain, juga melatih kemampuan untuk mendengarkan.


 
• Menstimulasi perkembangan kognitif 
Kognitif dapat diartikan sebagai pengetahuan yang luas, daya nalar, kreativitas, kemampuan berbahasa dan daya ingat. Konsep-konsep dasar seperti warna, ukuran, bentuk, arah, dan lainnya akan  lebih mudah diperoleh anak melalui kegiatan bermain. Misalnya, si kecil akan berpikir ‘bagaimana cara menuang air agar tidak tumpah’, ‘bagaimana cara memasukkan biji-bijian ke dalam botol?’ ia juga belajar mengelompokkan benda, warna, pola, dan bentuk, mengenal tekstur, juga mengklasifikasikan objek. 

• Meningkatkan imajinasi dan kreativitas 
Dalam bermain, anak-anak dapat berimajinasi sehingga dapat meningkatkan daya kreativitas seorang anak. Pada anak usia dini, biasanya anak senang mengimitasi ataupun meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Dengan berperan menjadi orang-orang di sekitarnya maupun perilaku orang lain yang pernah  ia lihat, anak dapat mengembangkan imajinasinya dalam kegiatan pura-pura tersebut. 

• Meningkatkan keterampilan interaksi sosial 
Bermain melibatkan interaksi sosial dan membangun kemampuan bersosialisasi. Anak-anak yang bermain baik bersama orang tua atau bersama teman-teman, belajar memahami dan mengalami bagaimana sebuah hubungan dibangun. Saat bermain, baik dengan saudara kakak-adik, teman-teman atau orang tua, anak diajak untuk mengungkapkan isi pikiran dan perasaannya maupun memahami apa yang diucapkan oleh teman tersebut. Sehingga, dari hal tersebut akan terbina hubungan dengan saling bertukar informasi (pengetahuan). Melalui bermain, anak juga dapat belajar mengenai nilai, kebiasaan, adat istiadat dan moral yang dianut oleh masyarakatnya. 

• Memahami diri sendiri dan meningkatkan kepercayaan diri 
Melalui kegiatan bermain peran, misalnya, anak mampu mengungkapkan apa yang ia rasakan kepada objek permainannya. Contohnya, seorang anak yang takut untuk pergi ke dokter gigi lalu ia berkata kepada bonekanya “Hari ini kita akan ke dokter gigi. Kamu jangan takut ya, dokternya baik kok.” Pada dasarnya ucapan tersebut untuk meregulasi dirinya sendiri. Anak berusaha memahami apa yang terjadi pada dirinya sendiri. 

Dalam bukunya yang berjudul “Rumahku Madrasah Pertamaku”, Khalid Ahmad Syantut menyatakan bahwasanya dalam pendidikan lingkungan, bermain memiliki peran terhadap pembentukan akhlak dan ruhiyah anak. Bermain merupakan salah satu kebutuhan asasi yang diperlukan anak, seperti halnya makan dan minum. Bermain bersama orang lain membentuk kecendrungan fitrah yang ada pada diri anak, apakah anak lebih cenderung egois dengan sikap individualismenya atau cenderung ingin berbaur bersama-sama dengan sesamanya.

Dengan mengetahui manfaat-manfaat bermain di atas, Bunda dapat menstimulasi anak dalam ragam kegiatan bermainnya, baik bermain bebas maupun bermain terstruktur. Apa itu bermain bebas dan bermain terstruktur? 

*Bermain Bebas vs Bermain Terstruktur* 
Bermain bebas atau tidak terstruktur adalah jenis permainan yang tidak terencana sehingga seringkali disebut sebagai  spontaneous play  atau free play. Permainan ini bersifat open-ended play, maksudnya ialah cara dan hasil karya anak yang satu dengan anak yang lainnya dapat berbeda-beda dan beragam. Anak tidak diberi target ataupun tujuan, ia sendiri yang membuat targetnya. Misalnya, saat seorang ibu memberikan kertas kepada dua orang anak. Bisa jadi anak pertama meremas-remas atau menyobeknya, sedangkan anak lainnya melipat atau mewarnai kertas tersebut. Bermain bebas ini dapat memberi ruang pada anak untuk berkreasi dan mengeksplorasi kemampuannya sendiri tanpa ada tekanan dari orang lain, mendorong anak berimajinasi, berpikir kreatif dan berinovasi, juga mendorong anak untuk mengambil inisiatif dan membuat keputusan sendiri. Contoh kegiatan permainan bebas misalnya: bermain pura-pura, bermain dengan boneka atau mobil-mobilan, mewarnai, menggambar, art and craft. 

Bermain terstruktur adalah jenis permainan yang memiliki tujuan dan target yang terstruktur, juga memiliki aturan dalam melakukannya. Permainan ini disebut juga sebagai adult-direct play (permainan yang diarahkan oleh orang dewasa) sebab orang dewasa banyak terlibat dalam proses bermain anak. Bermain terstruktur dapat membantu anak dalam memahami instruksi, memahami tujuan kegiatan, menaati aturan, melatih keterampilan sosial dan bekerja sama, menghormati orang lain, melatih kemampuan memusatkan pikiran, melatih kegigihan dan daya tahan kerja, serta mengenalkan kegiatan baru yang mungkin tidak akan dicoba anak

bila ia hanya bermain bebas. Contoh kegiatan berstruktur misalnya: membuat gedung dengan lego, bermain puzzle, ular tangga, monopoli, catur, petak umpet, dan segala jenis permainan lain yang memiliki aturan. 

Dalam keseharian Bunda mendampingi anak-anak, Bunda dapat menstimulasi anak dalam ragam aktivitas bermain bebas maupun bermain terstruktur. Baik dalam bermain bebas maupun terstruktur, hal yang penting untuk diperhatikan adalah keterlibatan anak sepenuhnya dalam kegiatan tersebut. Bagaimana ekspresinya? Apakah ia merespons dengan antusias? Apakah ia berhasil mempelajari hal baru? Apapun jenis mainannya, yang tak kalah penting adalah keterlibatan peran orangtua dalam membersamai anaknya. Sebab, mainan adalah sarana, bukan tujuan yang ingin dicapai. Semahal apapun mainan anak-anak kita, sebagus apapun mainan anak-anak kita, tetap tak dapat menggantikan peran kehadiran diri kita untuk mereka. Sejatinya demikian! 

Beberapa hal yang perlu juga kita perhatikan dalam urusan bermain ialah:
- Jangan membiarkan anak-anak kita lalai. Di tengah keasyikannya bermain, kita tetap harus menghentikannya jika sudah masuk waktu sholat maupun belajar. Oleh sebab itu, kita selaku orangtua juga harus pandai mengajarkan anak cara mengatur waktunya. 
- Memilih permainan yang baik dan benar. Jangan beri anak mainan yang membahayakan dirinya maupun orang lain. Jauhkan anak dari permainan yang dilarang juga menyesatkan.
- Jangan paksa anak untuk bermain. Meskipun dunia anak usia dini ialah bermain, namun pada beberapa anak ada juga yang senang mencari ilmu sejak usia belia. Misalnya saja, Yahya. Beliau lebih senang berlama-lama duduk di majlis ilmu daripada bermain. Saat usianya 3 tahun, beliau bahkan berkata "Bukan untuk bermain aku diciptakan". Ma syaa Allaah. Maka, ketika anak kita lebih senang membaca buku maupun belajar, jangan cemas Bun. Biarkan ia menekuni kecintaannya pada ilmu.

Bunda, agar bermain tak hanya sekadar bermain, kita sebagai orangtua berperan penuh menjadikan kegiatan bermain anak menjadi penuh makna. Permainan yang tak hanya bermanfaat untuk kehidupan dunianya, namun juga akhiratnya. Ada pembelajaran yang perlu dipahami si kecil. Ada hikmah yang perlu diantarkan ke dalam diri mungilnya. Jangan sampai setiap hari anak-anak kita hanya bermain gadget setiap saat. 

Tidak perlu mahal untuk bermain, Bunda. Sebagaimana punggung Rasulullah saw senantiasa terbuka untuk kedua cucunya, Hasan dan Husain. Saat Rasulullah saw berjalan merangkak ditunggangi oleh Hasan dan Husain, Beliau saw bersabda bahwasanya “sebaik-baik unta adalah unta kalian dan sebaik-baik penunggang adalah kalian berdua” (HR. Thabarani).

Bunda, betapa indahnya akhlak Rasulullah saw. Beliau mengajarkan kita santunnya akhlak pada anak-anak. Sungguh hal yang luar biasa dan patutlah kiranya menjadi cermin bagi kita semua untuk meneladani sosok Beliau, bahwa MEMBERSAMAI si kecil dalam kesehariannya JAUH LEBIH PENTING daripada mainan itu sendiri.

Tetap semangat, Bunda hebat semua! Sebab anak-anak kita terus bertumbuh. Maka, mari kita bertumbuh bersama!

Selanjutnya, kita diskusi saja yuk Bunda-Bunda pembelajar hebat ^^

Semangat Bermain!
@juliasarahrangkuti

You May Also Like

0 comments